Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Demi Calon Mertua

Dear, Dinda Dinda, maafkan aku bila beberapa hari ini telah mengabaikanmu. Bukan maksud hatiku melukaimu, namun kutempuh jalan ini demi keinginan bapak dan ibumu. Tentunya engkau tahu pembicaraanku dengan kedua orang tuamu seminggu yang lalu. Sabtu sore tatkala kuutarakan keinginan kita untuk menikah akhir tahun ini. Memang benar kita baru saja meraih gelar sarjana. Memang benar aku telah bekerja, bahkan semenjak masih kuliah kemarin. Namun ternyata pekerjaanku itu belum mampu memenuhi persyaratan yang diberikan kedua orang tuamu. Aku bukan pegawai. Aku hanya memiliki kios kecil yang sedang berkembang dengan penghasilan yang tak tetap. Ayah dan ibumu menginginkan mempunyai seorang menantu yang berstatus pegawai yang bergaji tetap. Demi memenuhi keinginan kedua orangtua kita (kelak) ini, beberapa hari kemarin aku berkeliling dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Alhamdulillah, sejak kemarin aku diterima kerja di sebuah perusahaan kecil dengan gaji sesuai UMR. Walaupun sebenarnya gaji...

Nilai 21, diantara Arit dan Karung

lelaki kecil telanjang dada celana pendek coklat, bawahan seragam pramuka lelaki kecil berkulit legam bermata bulat jenaka membawa karung di pundak kiri sabit tergenggam erat di tangan kanan tersenyum, dan mengangguk sopan padaku “lulus to Le?” “lulus, Bulik”. “nilai berapa?” “cuma 21, Bulik, maaf saya mau ngarit dulu” lelaki kecil melanjutkan perjalanannya dari sawah ke sawah berjalan susuri pematang merumput untuk dijual ke orang-orang yang membutuhkan rumput pakan hewan-hewan piaraan lelaki kecil sekedar membantu bapak dan emaknya meniti kehidupan entah bagaimana kemarin ia belajar materi ujian entah bagaimana esok mencari sekolah lanjutkan pelajaran polosnya lelaki kecil itu menjalani hari demi hari tanpa pernah bertanya tentang nasibnya padahal aku yakin dia pernah membaca salah satu ayat UUD 1945 rangkaian huruf dalam kalimat “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” .

Sudah Adzan, Sayang....

Adzan maghrib berkumandang Segeralah lepaskan earphone itu, Nak Ambil air wudhu Basuh ragamu Basuh jiwamu Mari bersama memenuhi seruan indah-Nya Adzan maghrib berkumandang Beranjaklah sejenak dari tempat dudukmu, Nak Berhentilah sebentar memainkan jemari di keyboard Palingkan pandangmu dari layar monitor Bentangkan sajadah hijau alas sujudmu Sejenak saja Tak akan butuh waktu lama Hanya tiga raka’at Tak lebih Nak, ayolah Waktu maghrib itu tak seberapa Waktu yang ada jangan di sia-sia Kita tak pernah tahu batas usia